Feb 24, 2009

Ujung Pelangi (1) : Move.. move..move!!

Ferry yang saya tumpangi perlahan merapat di pelabuhan. Di kejauhan, tampak banyak proyek pembangunan gedung-gedung baru sedang dikerjakan. Tiang-tiang pancang mencuat dimana-mana. Ada juga kereta gantung warna-warni yang menjadi akses ke Pulau Sentosa. Sayup-sayup saya mendengar celotehan beberapa teman, “Welcome to Singapore!”

Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di luar negeri. Rasanya gamang. Tempat ini benar-benar baru dan saya 900 Km jauhnya dari rumah. Matahari diatas sana sama teriknya dengan matahari diatas pulau Batam yang 2 jam lalu saya tinggalkan. Cuacanya pun sama cerahnya. Tapi kenapa atmosfernya benar-benar berbeda ? Nyali saya rasanya menciut. Segala pikiran buruk tiba-tiba membayangi. Jadi begini ini rasanya ketika kita mulai keluar dari zona nyaman. Tapi apa pun itu, saya tidak bisa mundur. Tiket pulang saya bertanggal 23 Januari 2009. Masih 7 hari lagi. Nasehat paling baik yang saya ingat di situasi seperti ini datang dari tag-line sebuah kuis di TV, “ Siap tidak siap, hadapi tembokmu!!”.

Jam saya masih menunjukkan pukul 10 pagi waktu Singapura atau 9 pagi waktu Jakarta. Saya memutuskan pergi ke Orchard naik kereta MRT. Wah.. ini pertama kalinya saya naik kereta bawah tanah. Sempat foto-foto juga saat beli tiket kereta di mesin. Biarin deh dibilang kampungan. Hahahaha. Di peron kereta, saya berkenalan dengan seorang laki-laki. Saya memberanikan diri menegurnya karena bingung bagaimana cara sampai ke Stasiun Orchard. Ternyata saya harus ganti kereta 2 kali dan untungnya kita searah. Kami pun mengobrol. Rasanya seperti saat oral test di LIA dulu. Tapi kali ini saya tidak peduli dengan kesalahan grammar saya. Toh yang penting dia mengerti. Ia ternyata orang Malaysia dan bekerja di Singapura. Ia memberi info lokasi wisata di Singapura. Mungkin karena pronunciation saya yang buruk atau efek noise lingkungan (halah), setiap saya berbicara kami jadi seperti sedang lomba tebak kalimat. Aduh...

Di stasiun Dhoby Ghaut, kami mesti berganti kereta. Saya menjajari langkahnya dan melihat sekeliling. Saya baru sadar, rasanya orang disini hobi berlari. Keluar kereta berlari, jalan menuju tempat keluar stasiun juga sambil berlari, bahkan mereka juga tetap melangkah saat menggunakan eskalator. Saya kemudian bertanya, “they seem in a rush. Are they all late?”. Tidak juga jawabnya. Mereka memang sedang mengejar waktu. Semuanya serba cepat disini. “ they walk fast, talk fast, and eat fast! Fortunately, I’m Malaysian. So I’m not that ‘fast’”. Saya lalu menyahut, “And I’m Indonesian!”. Dan kami berdua pun tertawa. Menertawakan ironi tentang bangsa kami yang serumpun ini.

Bagi saya, namanya eskalator pasti diciptakan supaya orang gak perlu capek lagi naik tangga. Jadilah, saat menaiki eskalator saya diam saja di anak tangga yang saya naiki. Eskalator yang saya naiki ini padat, dan beberapa kali banyak yang melintasi saya karena mereka naik sambil berjalan. tiba-tiba, ada seorang bapak yang melintasi saya sambil berkata,“go to the left! You are on the wrong side”. Saya pun bingung.. sambil celingak-celinguk ke belakang akhirnya saya sadar. Ya ampun… jadi bagian sebelah kanan dari eskalator memang harus dikosongin. Gunanya untuk memberi space untuk mereka yang ingin jalan. Orang-orang yang naik eskalator sambil diam, semua ada dibagian sebelah kiri. Pantas saja dari tadi ada beberapa orang yang melintasi saya sambil menggumam sesuatu. Mungkin mereka sebal karena saya membuat macet. Rasanya benar-benar jadi penduduk dunia ketiga. Teman saya tadi cuma tersenyum saat saya mengadu ke dia.

Karena stasiun ini cukup besar dan jarak menuju peron cukup jauh, ada semacam lantai berjalan di sini. Jadi kita tinggal diam diatasnya, dan dia berjalan sendiri. Fasilitas semacam ini biasanya ada di bandara. Melintasi lantai berjalan ini pun, sebagian besar orang disini melakukannya sambil setengah berlari. Saya jadi geleng-geleng kepala melihatnya. Alon-alon asal kelakon gak laku disini. Yang paling membuat kagum, sebagian besar wanita disini menggunakan high heels. Saya sudah sakit kaki duluan membayangkan mesti berjalan secepat mereka dengan heel setinggi itu.

Di kereta kedua, saya dan teman saya tadi mendapat tempat duduk yang berjauhan. Saat hendak turun di Stasiun Orchard, saya hanya sempat melambai kepadanya. Dan saya baru ingat kalau namanya saja saya tidak tahu. Mr. nice-man, thank you very much. See you next time.

No comments:

Post a Comment