Oct 21, 2009

palsu

Semakin dewasa, rasanya kita semakin kehilangan kemampuan untuk jujur. Ingat gak, waktu kita kecil kita bisa dengan mudahnya menangis saat kita sedih, berteriak saat kita marah, atau meloncat kegirangan saat senang. Kita berteman dengan tulus, tanpa embel-embel materi atau koneksi. pengikatnya hanya satu : berbagi tawa.

Topeng saya begitu lekatnya sampai saya lupa kalau saya sedang pakai topeng. saya statis... monoton..normatif... Saya tidak bisa bilang saya kecewa, saya tidak bisa bilang saya benci, saya tidak mengakui kalau saya muak, saya jadi patung.

saya takut melihat apa yang orang lain sembunyikan dibalik topeng mereka. disana ada amarah, dengki, sombong, cemburu, sikut kanan-kiri, curang, backstabber, dan semuanya tertutup senyum dan keramahan. mereka palsu.

tapi saya lebih takut dengan diri saya. berkali-kali saya kagum dengan kemampuan saya untuk bisa tersenyum saat saya mendendam, saya bisa mengemas kesombongan dengan halus, saya benci tapi saya tertawa bersama, ternyata saya yang paling palsu.

duh, jadi ngalor ngidul gini. maafkan. saya cuma sedang penat. penat dengan topeng. penat dengan orang MUNAFIK.

No comments:

Post a Comment