Jan 22, 2013

Menunggu Pukul Lima Sore

Pukul empat : tiga puluh lima sore.
Menanti jarum panjang tegak menuding angka dua belas.
Gelisah.
Seperti pesakitan menunggu vonis.

Oh katanya hidup cuma sekali.
Dan tanpa terang kapan berakhirnya.
Oh katanya kita semua punya peran.
Dan tanpa terang apa dimana bagaimana.

Pukul empat : lima puluh sore.
Relativitas waktu.
Lambat.
Terlalu lambat.

Duhai Upik, akan kemana kaki mu dilangkahkan
Jikalau hanya sibuk meragu
Hati lelah berharap
Jiwa pun kelu mengucap doa

Berkemas saja lah
Ada kebahagiaan yang disimpan di ujung pelangi
Hadiah bagi sang pemberani
Yang menolak untuk mati selagi hidup

No comments:

Post a Comment